SUDUT SUNYI
Bagian 1
Isi hati.
Ada posisi yang tak pernah diminta, namun harus dijalani setiap hari. Duduk di barisan yang paling sering disalahkan, paling mudah ditegur, dan paling jarang dipahami.
Setiap langkah dijaga sedemikian rupa. Nada suara diturunkan, pilihan kata ditimbang, karena satu kesalahan kecil bisa berbuah panjang. Sementara kesalahan serupa dari mereka yang lebih dulu sampai, sering berakhir sebagai bahan candaan.
Mengalah perlahan menjadi bahasa yang paling fasih. Bukan karena tak sanggup melawan, melainkan karena dunia seolah telah menetapkan peran: lebih banyak mendengar, lebih sedikit bicara, dan selalu siap diminta memahami.
Hari-hari berjalan dengan tanggung jawab yang kian bertambah. Pekerjaan datang silih berganti, sering tanpa jeda, sering tanpa pilihan. Tenaga dicurahkan sepenuh mungkin, namun pengakuan terasa seperti sesuatu yang harus menunggu giliran; atau mungkin tak pernah benar-benar datang.
Ada kalimat-kalimat yang terdengar bijak, namun diam-diam memberatkan.
Tentang belajar ikhlas.
Tentang proses panjang.
Tentang belum saatnya bersuara terlalu lantang.
Semua diterima dengan kepala tertunduk. Senyum tetap dipasang meski dada terasa sesak. Karena menolak berarti dianggap belum tahu diri, dan mempertanyakan berarti dinilai kurang ajar.
Yang paling melelahkan bukan pekerjaan itu sendiri, melainkan perasaan tak pernah cukup. Sudah berusaha sebaik mungkin, namun selalu ada celah untuk disalahkan. Sudah memberi lebih dari yang diminta, namun tetap dianggap belum pantas dihargai.
Di sudut-sudut sunyi,
hati kecil sering bertanya:
apakah bertahan selalu harus seberat ini?
Engkau, Rabb; yang menyaksikan segala yang tak mampu diucapkan.
Air mata yang jatuh tanpa suara, doa-doa yang menggantung di antara helaan napas panjang.
Bila hari ini memilih diam, itu bukan kekalahan. Itu adalah ikhtiar menjaga hati agar tak berubah menjadi pahit. Agar tetap bisa menunaikan amanah tanpa kehilangan kelembutan jiwa.
Bismillah…
luaskan lagi sabar yang hampir menipis itu, ya. Jika pundak harus menahan lebih lama, kuatkan. Jika jalan masih harus dilalui dalam senyap, temani.
Dan jika suatu hari takdir mempertemukan dengan ruang yang lebih adil, tempat jerih payah dihargai tanpa perlu berteriak, semoga saat itu tiba dengan cara yang paling menenangkan.
Karena yang hari ini sering diminta memahami, kelak akan memahami banyak hal.
Dan yang hari ini kerap dipinggirkan, bisa jadi sedang disiapkan untuk berdiri di tempat yang lebih lapang; bersama hati yang telah ditempa oleh sabar yang panjang.
Tolong, sabar dulu.


Komentar